23 Contoh Cerpen Pendidikan, Inspiratif, Penuh Makna dan Motivasi

Berikut beberapa contoh karangan cerpen pendidikan penuh motivasi dan sangat inspiratif, cocok untuk referensi tugas sekolah!

Cerpen sering kali digunakan sebagai bahan pelajaran dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, karena selain untuk mengasah kemampuan membaca dan menulis, cerpen juga mengandung nilai moral dan pesan yang dapat diambil oleh siswa. Salah satu jenis cerpen yang isinya mengandung nilai moral, budi pekerti, nasihat adalah cerpen pendidikan. Lebih tepatnya, cerita pendek ini memiliki latar belakang dunia pendidikan, untuk itu diberi nama sebagai cerpen pendidikan.

Cerpen pendidikan biasanya ditulis oleh pengarang untuk menceritakan mengenai kisah atau kejadian dari seseorang dengan latar belakang sekolah, serta mempunyai nilai sosial yang mendidik hingga berkisah tentang perjuangan dalam menggapai cita-cita dan selalu bersemangat dalam belajar.  Cerpen merupakan sebuah karya sastra berupa fiksi, karena isi dari cerita pendek tersebut adalah khayalan atau imajinasi yang dibuat oleh sang penulis. Simak artikel berikut ini mengenai contoh cerpen pendidikan.

Ringkasan

  • Cerpen singkatan dari cerita pendek merupakan sebuah karya sastra yang menceritakan tentang suatu peristiwa dalam bentuk teks yang terdiri dari satu bab atau beberapa halaman saja.
  • Perbedaan cerpen dengan novel yaitu dalam cerpen penulis lebih mendominasi berpusat dalam perhatian dan mengesampingkan latar belakang yang lebih luas.
  • Cerpen dapat mengeksplorasi berbagai genre, seperti fiksi, non fiksi, fantasi, misteri, romantis, pendidikan dan lain sebagainya.
  • Cerpen mempunyai gaya penulisan yang sangat bervariasi, mulai dari deskriptif hingga gaya penulisan yang singkat dan padat. Majalah, antologi atau buku.

Lihat Juga : 26 Daftar Suku Bangsa di Indonesia

Sekilas tentang Cerpen

Kumpulan Cerpen Pendidikan Penuh Motivasi
Sumber Gambar : prettyliex.com

Cerpen singkatan dari cerita pendek merupakan sebuah karya sastra yang menceritakan tentang suatu peristiwa dalam bentuk teks yang terdiri dari satu bab atau beberapa halaman saja. Cerpen mempunyai karakteristik khusus yang memiliki perbedaan dari bentuk narasi yang lebih panjang, seperti novel.

Tokoh utama yang terlibat dalam suatu konflik dalam kehidupan adalah titik fokus yang ada pada cerpen. Cerpen sering kali mempunyai tema atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca. Walaupun cerpen berisi teks yang cukup singkat, akan tetapi cerpen memiliki struktur yang baik, perkembangan karakter serta perselisihan yang menarik.

Perbedaan cerpen dengan novel yaitu dalam cerpen penulis lebih mendominasi berpusat dalam perhatian dan mengesampingkan latar belakang yang lebih luas. Hal itu bertujuan untuk menghadirkan kisah yang singkat akan tetapi tetap menggugah perasaan dan pemikiran pembaca.

Cerpen dapat mengeksplorasi berbagai genre, seperti fiksi, non fiksi, fantasi, misteri, romantis, pendidikan, sedih, dan lain sebagainya. Cerpen mempunyai gaya penulisan yang sangat bervariasi, mulai dari deskriptif hingga gaya penulisan yang singkat dan padat. Majalah, antologi atau buku merupakan salah satu contoh tempat yang digunakan sebagai media untuk mempublikasi cerpen.

Lihat Juga : 10 Contoh Review Jurnal

Kumpulan Cerpen Pendidikan

Contoh Cerpen Pendidikan Inspiratif
Sumber Gambar : bookriot.com

Berikut ini beberapa contoh dari cerita pendek pendidikan yang dapat dijadikan sebagai referensi tugas sekolah.

1. Si Kecil Yang Rajin Belajar

Suatu hari, di sebuah desa kecil, tinggal seorang anak kecil bernama Maya. Maya adalah seorang siswa kelas 4 yang mempunyai semangat belajar yang luar biasa. Setiap pagi, dia dengan gembira membawa tasnya yang penuh dengan buku dan pulpen ke sekolah.

Maya adalah anak yang sangat rajin dan berdedikasi dalam belajar. Setiap kali ada tugas atau pekerjaan rumah, dia selalu menyelesaikannya dengan teliti dan tepat waktu. Guru-gurunya pun terkesan dengan semangat dan kegigihannya.

Akan tetapi, Maya tidak memiliki kondisi finansial yang cukup baik. Orang tuanya bekerja sebagai petani dan pendapatan mereka terbatas. Meskipun begitu, Maya tidak pernah menyerah dan selalu berusaha untuk belajar sebaik mungkin.

Saat pulang sekolah, Maya sering pergi ke perpustakaan desa. Di sana, dia membaca buku-buku dengan penuh antusiasme. Ia merasa bahwa buku adalah jendela dunia yang tak terbatas dan dia ingin mengeksplorasi segala pengetahuan yang ada.

Suatu hari, Maya mendapatkan kabar bahwa ada kompetisi menulis cerpen di sekolahnya. Meskipun Maya belum pernah menulis cerita sebelumnya, dia merasa tertantang untuk mencobanya. Maya membaca banyak buku cerita, mencari inspirasi dan dengan semangat yang membara, dia mulai menulis cerpennya.

Maya menghabiskan berjam-jam menulis dan mengedit ceritanya. Dia menggambarkan perjuangan seorang anak kecil yang gigih dalam belajar meskipun telah menghadapi berbagai rintangan. Maya ingin memberikan inspirasi kepada orang lain melalui ceritanya, terutama mereka yang memiliki kesulitan dalam mendapatkan pendidikan.

Akhirnya, hari penjurian pun tiba. Seluruh siswa berkumpul di aula sekolah, termasuk Maya yang penuh harapan. Ketika hasil penjurian diumumkan, Maya terkejut dan bahagia. Cerpennya terpilih sebagai pemenang kompetisi. Semua orang memberikan tepuk tangan dan memuji karya Maya yang luar biasa.

Kemenangan itu menjadi momen bersejarah bagi Maya, dia merasa bahwa usahanya dan semangat belajarnya diakui dan dihargai. Selain itu, cerpennya menjadi inspirasi bagi teman-teman sekelasnya untuk tidak menyerah dan terus berjuang dalam pendidikan.

2. Satu Langkah Menuju Impian

Rani merupakan seorang siswi kelas 12 yang bercita-cita menjadi dokter. Dia lahir di sebuah desa kecil yang jauh dari pusat kota. Akses pendidikan yang terbatas membuat impian Rani tampak sulit dicapai.

Namun, Rani tidak menyerah begitu saja. Setiap hari, dia berjalan kaki beberapa kilometer menuju sekolah, melewati jalan berbatu dan sungai yang meluap saat musim hujan. Meskipun capek, Rani tetap bersemangat dan fokus terhadap tujuan pendidikannya.

Di sekolah, Rani adalah siswa yang rajin dan antusias. Dia selalu menyelesaikan tugas dengan baik dan aktif mengikuti pelajaran. Namun, minimnya  sumber daya dan fasilitas di sekolahnya, sering kali membuat Rani merasa tertinggal.

Suatu hari, seorang dokter dari kota datang ke desa Rani untuk memberikan pelayanan pengobatan gratis. Rani melihat kesempatan emas untuk bertemu dengan seorang dokter secara nyata. Dia dengan berani mendekati dokter itu dan bertanya banyak hal tentang pekerjaan dan pendidikan dokter.

Dokter itu terkesan dengan semangat dan dedikasi Rani, dia memberikan nasihat dan menyemangati Rani untuk terus berusaha mencapai impiannya. Dokter pun juga memberikan buku-buku kedokteran kepada Rani sebagai hadiah.

Dengan semangat yang baru, Rani memutuskan untuk mengumpulkan sumbangan buku dan peralatan sekolah dari warga desa. Dia berbagi impian dan tekadnya dengan mereka dan warga desa dengan senang hati membantu.

Berbekal sumbangan tersebut, Rani membangun sebuah perpustakaan kecil di desanya. Dia menghabiskan waktu luangnya untuk membaca buku dan mempelajari lebih lanjut tentang dunia kedokteran. Semua warga desa yang bersemangat untuk belajar, termasuk anak-anak, datang ke perpustakaan dan belajar bersama.

Melihat semangat Rani dan perpustakaan yang berhasil didirikannya, seorang donatur yang melihat potensi Rani memberikan beasiswa pendidikan kepadanya. Dengan beasiswa tersebut, Rani bisa melanjutkan pendidikannya ke kota dan mendapatkan akses ke pendidikan yang lebih baik.

Tidak lama setelah itu, Rani berhasil lulus dari sekolah kedokteran dan menjadi seorang dokter yang berdedikasi. Dia kembali ke desanya dan membuka klinik kecil untuk membantu warga desa yang membutuhkan pengobatan.

3. Buku Ajaib

Rani adalah seorang siswi kelas 3 yang tinggal di desa terpencil. Di desanya, akses ke pendidikan sangat terbatas. Meskipun begitu, Rani memiliki semangat belajar yang tinggi.

Setiap hari, setelah pulang sekolah, Rani pergi ke sebuah warung kecil di dekat rumahnya yang menjual berbagai macam buku. Meski bukunya hanya sedikit, Rani sangat bersemangat untuk membacanya.

Suatu hari, saat Rani tengah membaca di warung itu, seorang pria tua yang baik hati datang. Pria itu melihat semangat Rani dan bertanya apa yang membuatnya begitu antusias membaca buku.

Rani dengan senang hati bercerita tentang mimpinya menjadi guru dan membantu teman-temannya mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Pria tua itu tersenyum dan memberikan Rani sebuah buku kecil yang indah.

“Pakai buku ini dengan baik, Rani,” kata pria tua itu sambil mengedipkan mata.

Rani tersenyum penuh rasa syukur dan membawa pulang buku itu. Namun, saat dia membuka halaman pertama, dia terkejut. Di sana terpampang kalimat ajaib, “Setiap kali kamu membaca buku ini dengan sepenuh hati, pengetahuanmu akan bertambah dua kali lipat.”

Dengan penuh semangat, Rani mulai membaca buku tersebut setiap malam. Dia mengeksplorasi berbagai topik dan menyerap ilmu pengetahuan dengan rasa ingin tahu yang besar.

Waktu berlalu, dan Rani semakin cerdas dan berpengetahuan luas. Teman-temannya terheran-heran melihat perubahan yang terjadi padanya. Mereka pun tertarik dan meminta Rani untuk membantu mereka belajar.

Rani dengan senang hati membagikan pengetahuannya dan membantu teman-temannya. Dia menyadari bahwa buku ajaib itu bukan hanya memberinya ilmu pengetahuan, tetapi juga memberinya kesempatan untuk berbagi pengetahuan dan memperbaiki pendidikan di desanya.

Kisah Rani menyebar di desa, dan orang-orang mulai memberikan sumbangan buku dan membantu mendirikan perpustakaan kecil di desa mereka. Sekarang, semua anak-anak di desa memiliki akses ke berbagai macam buku yang membuka pintu dunia pengetahuan bagi mereka.

4. Jendela Peluang

Seorang anak laki-laki bernama Dika tinggal di daerah pedesaan yang jauh dari kota. Akses pendidikan di desanya sangat terbatas. Namun, Dika tidak menyerah. Setiap hari, ia berjalan kaki beberapa kilometer menuju perpustakaan terdekat untuk membaca dan belajar. Dika menganggap perpustakaan sebagai jendela peluang untuk mencapai impian pendidikannya.

Di sekolah Nusa Bangsa yang merupakan tempat sekolah Dika untuk mengejar ilmu, terdapat sebuah perpustakaan besar dan cukup lengkap bukunya yang telah disediakan oleh sekolah. Dika yang memiliki uang saku yang cukup sedikit, tentu saja ia memanfaatkan perpustakaan sebagai tempat istirahatnya. Dika sangat jarang pergi ke kantin, karena uang saku yang ia terima dari orang tuanya hanya cukup sebagai ongkos pergi dan pulang sekolah ke rumah.

Setiap hari, Dika tidak pernah absen untuk selalu meminjam buku di perpustakaan untuk dibaca dan dicatat pada saat ia berada di rumahnya. Lalu, di suatu hari, teman sekelas Dika memberitahukan kepada kepala sekolah bahwa Dika adalah murid yang memiliki pengetahuan dan wawasan luas. Untuk itu, Dika diminta oleh kepala sekolah agar mengikuti olimpiade sejarah yang akan diadakan sebagai bentuk perayaan di hari pahlawan.

Awalnya, Dika kurang percaya diri untuk mengikuti olimpiade tersebut. Namun, berkat dukungan dan semangat dari orang tua, teman, serta guru. Akhirnya, Dika berani untuk mengambil langkah mengikuti olimpiade sejarah itu. Dan beberapa minggu kemudian, pengumuman perlombaan telah keluar hasilnya. Dika merasa sangat terkejut dengan hasil yang diterimanya, bahwa ia mendapatkan juara 1 olimpiade sejarah dan berhasil membawa uang sejumlah uang.

Kemenangan yang sudah diraih oleh Dika, membuat kedua orang tuanya merasa bangga. Bukan hanya itu, Dika juga berhasil lolos dalam program beasiswa di luar negeri. Akhirnya, berkat perpustakaan dan hobi membacanya, Dika bisa mewujudkan semua impiannya untuk menempuh pendidikan di luar negeri.

5. Kisah Bunga Si Anak Pintar

Bunga adalah seorang siswi kelas 5 yang cerdas dan rajin belajar. Namun, di sekolahnya, banyak teman sekelasnya yang malas dan tidak tertarik dengan pelajaran. Bunga tidak putus asa. Dia membentuk sebuah kelompok belajar di sekolah, di mana mereka saling membantu dan memotivasi untuk belajar dengan giat. Melalui usahanya, teman-temannya menjadi lebih termotivasi dan semangat belajar mereka pun meningkat.

Setiap hari, rumah Bunga banyak kedatangan teman-temannya untuk belajar tugas sekolah. Tentu saja, Bunga merasa sangat senang, karena ia dapat membagikan ilmu dan mengajarkan kepada temannya yang masih belum memahami tentang pelajaran. Lalu, ada teman Bunga mengusulkan untuk belajar bersama dalam mempersiapkan ujian akhir sekolah dan Bunga setuju dengan usulan tersebut.

Setelah mengikuti ujian akhir sekolah yang diadakan selama kurang lebih 2 minggu. Akhirnya, hari pembagian rapor pun telah tiba. Tentu Bunga merasa risau, takut jika nilai ulangannya jelek dan mengecewakan kedua orang tuanya. Dan benar saja, Bunga mendapatkan peringkat 1 dengan hasil nilai yang mencapai kata sempurna. Hal itu adalah berkat usaha dan kegigihan Bunga saat belajar.

6. Kartu Ajaib Pencipta Mimpi

Di sebuah kota kecil, tinggal seorang anak laki-laki bernama Dito. Dito sangat menyukai belajar dan selalu bercita-cita menjadi seorang ilmuwan. Namun, di sekolahnya, ia sering kali merasa bosan dengan pembelajaran yang monoton.

Suatu hari, ketika Dito tengah bermain di taman, ia menemukan kartu ajaib yang tergeletak di bawah pohon. Kartu tersebut memiliki gambar buku dan pensil di bagian depannya. Tertarik, Dito mengambil kartu itu dan membacanya.

Ternyata, itu adalah “Kartu Ajaib Pencipta Mimpi”. Kartu itu memiliki kekuatan untuk mengubah cara Dito belajar dan memberikan pengalaman belajar yang luar biasa.

Ketika Dito memegang kartu itu, ia tiba-tiba berada di tengah buku teks yang diilustrasikan secara hidup. Ia dapat berinteraksi langsung dengan tokoh-tokoh dalam buku tersebut. Dito juga dapat menjelajahi tempat-tempat yang dia baca di buku.

Dengan kartu ajaib itu, Dito belajar sambil bermain dan menjelajahi dunia ilmu pengetahuan dengan cara yang menyenangkan. Dia berpetualang di lautan bersama penjelajah terkenal, melakukan eksperimen di laboratorium canggih, dan mengeksplorasi planet-planet di tata surya.

Setelah pengalaman yang menakjubkan itu, Dito kembali ke dunia nyata dengan semangat yang menyala-nyala. Kartu ajaib itu mengubah cara Dito belajar dan membuatnya lebih antusias dalam mengeksplorasi ilmu pengetahuan.

Dito memutuskan untuk berbagi kartu ajaib itu dengan teman-temannya di sekolah. Bersama-sama, mereka menjelajahi dunia ilmu pengetahuan dengan penuh keajaiban. Mereka belajar dengan gembira, dan prestasi akademik mereka meningkat.

Kartu ajaib itu tidak hanya memberikan pengalaman belajar yang luar biasa, tetapi juga mendorong Dito dan teman-temannya untuk bermimpi dan mengejar cita-cita mereka. Bersama-sama, mereka membuktikan bahwa pendidikan adalah kunci untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka.

7. Tukang Kue Yang Belajar

Rita adalah seorang tukang kue yang bekerja keras. Namun, dia selalu bermimpi menjadi ahli dalam ilmu kuliner. Rita mengambil keputusan untuk kembali ke sekolah dan mengambil kursus kuliner. Meski sulit mengatur waktu antara pekerjaan dan belajar, Rita tidak menyerah. Dengan dedikasi dan kerja keras, Rita berhasil menguasai keterampilan kuliner yang diimpikannya dan membuka usaha kue sendiri.

Beberapa hari setelah membuka usaha toko kue, banyak pelanggan yang berdatangan hingga ada pembeli yang melakukan pesanan. Antusias dari para pembeli itu membuat Rita semakin bersemangat untuk membuat resep baru, agar banyak varian kue yang dapat dinikmati oleh masyarakat. Salah satu kue paling favorit adalah kue bolu, Rita memiliki ide dengan mengkreasikan kue bolu terlihat berbeda dengan yang lain yaitu kue bolu dan di atasnya diberikan pudding berbahan dasar susu, hal itu menarik perhatian pembeli.

Berkat usaha, tekad dan kegigihan Rita untuk terus belajar dan membuat resep baru sesuai dengan ide dan kreativitas yang dimilikinya. Oleh karena itu, toko kue milik Rita terus ramai dan banjir pesanan yang melimpah ruah.

8. Si Kecil Yang Gigih

Mia, seorang siswi kelas 12 yang tinggal di daerah pedalaman, memiliki satu impian besar menjadi seorang guru. Meskipun terbatasnya fasilitas pendidikan di desanya, Mia tidak pernah menyerah. Setiap hari, dia berjalan kaki beberapa kilometer menuju sekolah terdekat. Dengan semangatnya yang tak tergoyahkan, Mia terus belajar dan membagikan pengetahuannya kepada teman-temannya. Suatu hari, berita tentang semangat dan dedikasi Mia menyebar, dan seorang dermawan memberikan bantuan untuk memperbaiki fasilitas sekolah di desa Mia. Impian Mia semakin dekat, dan dia berjanji akan terus berjuang untuk mencapainya.

Dari beberapa donatur yang memberikan bantuan untuk memperbaiki fasilitas sekolah di desa Mia, akhirnya sekolah tersebut telah memiliki fasilitas yang cukup baik sekali. Terdapat laboratorium komputer yang berguna untuk memberikan pengajaran dan pengetahuan tentang pentingnya internet dan komputer, ruang perpustakaan yang sudah tersedia beberapa buku dari buku pelajaran sekolah, novel hingga komik. Berbagai fasilitas yang sudah ada, tentu Mia sangat antusias memanfaatkan itu semua. Berkat kegigihannya dalam belajar, Mia berhasil masuk 10 besar siswa yang memperoleh beasiswa.

9. Sang Pemberani

Dika adalah seorang siswa baru di sekolah barunya. Ia adalah anak yang pemalu dan selalu merasa cemas di tengah keramaian. Namun, Dika memiliki tekad kuat untuk mengatasi kelemahannya. Ia mengikuti pelajaran dengan penuh perhatian dan bergabung dalam kegiatan ekstrakurikuler yang menantang seperti pidato dan teater.

Melalui proses yang panjang dan dengan dukungan teman-temannya, Dika berhasil mengatasi kecemasannya dan tampil sebagai pemenang dalam lomba pidato. Cerita ini mengajarkan pentingnya menghadapi ketakutan dan berani mengambil langkah di luar zona nyaman untuk mencapai potensial yang terbaik.

10. Membantu Bisa Membuat Hati Kita Senang

Perkenalkan, namaku Linda yang sekarang duduk di kelas 3 Sekolah Dasar. Setiap hari, aku selalu diantar oleh ayahku untuk pergi bersekolah. Aku sangat senang karena ayah selalu mengantarkanku tepat waktu sehingga aku tidak pernah terlambat sekolah.

Di sekolah, aku bertemu banyak sekali teman yang sangat seru dan asyik. Jadi, sekolah tidak pernah terasa membosankan. Ketika pulang pun, aku pulang bersama dengan teman-teman yang kebetulan rumahnya berdekatan. Pada suatu waktu, ketika pulang, kami melihat ada seorang ibu yang barang belanjanya terjatuh karena terlalu banyak. Melihat hal itu, kami segera membantu.

Sesampainya di rumah, aku menceritakan kejadian itu kepada Ibu, kemudian Ibu berkata, “Bagus, Nak, jangan pernah ragu untuk membantu orang lain.” Kemudian, aku juga bilang, “Ternyata membantu orang lain sangat menyenangkan.” Sejak kejadian itu, aku selalu berusaha untuk membantu orang lain yang membutuhkan bantuan.

Sumber: berita.99.co

11. Pengembara Yang Cerdik

Pada suatu hari, ada seorang raja mengajukan pertanyaan di istananya yang membuat semua orang kebingungan. Ketika mereka mencoba mencari tahu jawabannya, seorang pengembara berjalan masuk dan bertanya ada apa. Mereka mengulangi pertanyaan itu kepadanya. Pertanyaannya adalah, “Ada berapa banyak gagak di kota ini?” Dia mengumumkan jawabannya, “Katanya ada dua puluh satu ribu lima ratus dua puluh tiga gagak di kota.”

Ketika ditanya bagaimana dia tahu jawabannya, orang itu menjawab, “Minta anak buahmu untuk menghitung jumlah gagak. Jika ada lebih banyak, maka kerabat gagak harus mengunjungi mereka dari kota terdekat. Jika jumlahnya lebih sedikit, maka gagak dari kota kami harus mengunjungi kerabat mereka yang tinggal di luar kota.” Senang dengan jawaban itu, raja memberi pengembara itu kalung mutiara.

Sumber: berita.99.co

12. Filosofi Pensil

Seorang anak laki-laki bernama Andi kesal karena dia mendapatkan nilai buruk dalam tes bahasa Inggrisnya. Dia sedang duduk di kamarnya ketika neneknya datang dan menghiburnya. Neneknya duduk di sampingnya dan memberinya pensil. Andi memandang neneknya dengan bingung, dan berkata bahwa dia tidak pantas mendapatkan pensil setelah nilai ujiannya yang jelek.

Neneknya menjelaskan, “Kamu bisa belajar banyak hal dari pensil ini karena sama seperti kamu, dia mengalami penajaman yang menyakitkan, persis seperti kamu mengalami rasa sakit karena tidak berhasil dengan baik pada ujian. Namun, hal ini akan membantu kamu menjadi siswa yang lebih baik. Sama seperti semua kebaikan yang berasal dari pensil berasal dari dalam dirinya sendiri, kamu juga akan menemukan kekuatan untuk mengatasi rintangan ini. Dan akhirnya, sama seperti pensil ini akan membuat tanda pada permukaan apa pun, kamu juga harus meninggalkan tanda pada apa pun yang kamu pilih.”

Andi pun terhibur dan berjanji akan menjadi lebih baik di masa depan.

Sumber: berita.99.co

13. Mimpi Dara

Dara adalah gadis yang tumbuh di keluarga kaya raya, sayangnya Dara membutuhkan kursi roda untuk bisa beraktivitas sehingga dirinya sering merasa diacuhkan oleh keluarganya.

Setiap hari, Dara menghabiskan waktunya menggambar taman yang bisa ia lihat dari jendela kamarnya.

Suatu hari, Dara jatuh dari kursi roda, tetapi tidak ada yang mau menolongnya.

Kecewa dengan sikap keluarganya, Dara pun mencoba merangkak ke arah taman kompleks untuk menenangkan diri.

Di taman, Dara melihat seorang gadis seusianya yang memiliki kondisi sama, gadis tersebut pun mengenalkan dirinya bernama Hana dan keduanya pun menjadi akrab dengan satu sama lain.

Ketika bercengkerama, Hana berkata, “Dara, ingatlah bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang terlahir sia-sia. Mungkin kita tidak bisa berdiri tegak layaknya manusia lain. Namun, kita masih punya hak untuk merasakan bahagia. Cobalah untuk menerima dirimu sendiri, Dara.”

Dara pun merenungi dan mencerna perkataan Hana, kemudian dia mencoba mewujudkan mimpinya menjadi pelukis meski tidak bisa berdiri tegak.

Perlahan, Dara berhasil mewujudkan mimpinya dan lukisannya pun bisa dipajang di pameran besar.

Sumber: berita.99.co

14. Persahabatan

Ketika masuk SMP, aku bersahabat dengan Jasmine. Pertemanan kita berawal ketika aku pingsan di jam olahraga. Sebelum pingsan, Jasmine sempat bertanya kepadaku “Kamu tampak lemas, mau kupanggilkan guru untuk dibawa ke UKS?”

Aku yang berusaha terlihat kuat pun menjawab tidak dan memaksakan mengikuti kelas olahraga.

Jasmine yang merasa aku sedang tak sehat pun memanggil guru untuk memberitahukan bahwa aku akan segera pingsan. Benar saja, aku pingsan dan dibawa oleh guru olahraga ke ruang UKS.

Setelah kembali ke kelas, aku berterima kasih ke Jasmine dan kita pun mulai akrab.

Tiga tahun sudah aku dan Jasmine menjalin persahabatan, tetapi setelah lulus SMP, Jasmine mengikuti orang tuanya dan pindah ke Jakarta.

Mendengar kabar itu, aku sangat sedih karena tidak bisa berkomunikasi langsung dengan Jasmine.

Setelah lulus SMA, aku mencoba berkomunikasi lagi ke Jasmine menggunakan surat.

Di akhir surat, aku menulis dengan penuh harap, “Apakah kita bisa bertemu kembali di universitas yang sama?”

Sumber: berita.99.co

15. Pendidikan Yang Ku Tunggu

Pendidikan, satu kata yang seharusnya dapat dirasakan oleh setiap orang, terutama oleh anak-anak. Namun pada kenyataannya, tidak semua orang mampu merasakan pendidikan di sekolah, salah satu penyebabnya yakni karena harus mencari rezeki. Gilang, itulah nama panggilanku dan aku adalah satu dari sekian banyak anak yang tak bisa merasakan apa itu arti bersekolah.

Usiaku sekarang 10 tahun dan aku masih kelas 2 SD. Kata teman-temanku, seharusnya aku sudah duduk di kelas 4 atau 5 SD. Akan tetapi, karena keadaan ekonomi yang tidak mendukung, aku harus mencari rezeki agar bisa memenuhi kebutuhan hidup aku dan adikku yang masih berusia 5 tahun.

Aku dan adikku tinggal di rumah berukuran 4×4 meter persegi yang juga merupakan milik orang lain. Tak bisa dibayangkan oleh diriku jika tak ada rumah ini, mungkin aku dan adikku harus tidur di depan ruko yang setiap malam harus melawan dinginnya malah atau hujan. Suatu waktu, malam hari terasa lebih dingin, kami berdua tak memiliki selimut dan hanya mempunyai satu sarung, kemudian sarung itu kuberikan kepada adikku.

Orang tua kami sudah lama meninggal dunia karena kecelakaan. Waktu itu, motor yang dikendarai oleh ayahku jatuh saat hujan sedang turun dengan deras. Kedua orang tuaku sempat dibawa ke rumah sakit, tetapi apa hendak dikata, takdir Tuhan berkata lain.

Sumber: sonora.id

16. Miskin Tak Menjadi Penghalang Mengejar Impian

Aku anak seorang pemulung dan pekerja buruh. Ayahku buruh pabrik dan ibuku sering bekerja mengumpulkan barang bekas, untuk menambah biaya sekolah dan kehidupan aku beserta adik-adikku. Aku menjual kue di sekolah, kue apa saja yang dibuat ibu aku jual di kelas ke teman-temanku. Walau tidak banyak, cukup buat ditabung untuk membayar uang sekolah. 

Kini, aku duduk di bangku mahasiswa untuk meneruskan beasiswa ke jenjang magister. Penggalan kisah diriku tadi adalah kisah waktu aku duduk di bangku sekolah dasar. 

Sumber: artikel.rumah123

17. Utopia Putih Merah

Dari balik tirai jendela yang lusuh, sepasang mata kecil menatap awas. Pandangannya tidak terlepas dari lapangan bola, tepat 10 meter di depan rumahnya.

Sudah setengah jam gadis itu mengawasi. Bukan gerak-gerik bola. Bukan pula para pemain bola berseragam putih merah, karena di sana hanya ada bayangan kosong dan keheningan.

Hari itu, seharusnya menjadi hari pertama ia masuk sekolah.

Hari itu, seharusnya untuk pertama kalinya ia mengenakan seragam putih merah yang selalu didambakannya. Tapi, hari itu semua berbeda dari bayangannya.

Rumahnya mendadak penuh orang-orang. Dia mengenal dua atau tiga orang dari mereka, meskipun ada sepotong kain hijau menutup hidung dan mulut mereka.

Sumber: artikel.rumah123

18. Manusia Karantina

Sudah satu tahun lebih berlalu pandemi tampaknya belum sepenuhnya hilang dari bumi. Dan masih betah singgah untuk menemani kita di duniawi ini. aku Dilla siswa SMP di daerah Bekasi. Entah sampai kapan pandemi ini akan berlalu. Rasanya sudah bosan menjalani kegiatan sekolah yang lewat zoom saja.  Kegiatan harianku hanya di sekitar rumah tidak berani keluar karena adanya lockdown untuk daerahku. “kring…” terdengar pesan dari handphone. Ternyata pesan dari ibuku yang sedang menjalani karantina mandiri di kamarnya. Memintaku untuk mengambilkan makanan karena sudah lapar. 
Ayahku adalah seorang perawat di sebuah rumah sakit di Bekasi. Dia terpapar gejala covid 19 dan menjalani karantina di rumah sakit. Dan ibuku dinyatakan positif sehingga harus menjalani karantina mandiri.

Aku menjadi salah satu manusia karantina meskipun tidak positif tapi keluargaku yang terpapar. Sehingga membuatku harus karantina dari keluarga dan dunia luar lainnya.  Kebosananku semakin bertambah karena tidak ada satu keluarga pun yang menemani. Wahai covid segera engkau pergi dari dunia ini. Aku rindu ayah dan ibuku, rindu guru dan teman-temanku, rindu suasana di sekolahku.  Rindu kantin kehidupanku sebelum engkau datang Covid-19.

Sumber: kabar24.bisnis

19. Kotak Cinta Untuk Ibu Tersayang

Hari-hariku di kampus dipenuhi dengan kegiatan di organisasi mahasiswa. Ditambah dengan jadwalku memberi les kepada anak umur SD.

Semua terasa berat, ingin rasanya aku memiliki satu hari yang khusus dihadiahkan untukku. Agar aku bisa beristirahat. Sedikit menghirup udara segar dan terbebas dari rutinitas dunia kampus yang terlalu padat.

Aku adalah mahasiswa kos di dekat kampus. Rumahku yang jauh membuatku selalu rindu dengan kedua orang tuaku.

Rasa capek dan bosan sering membuat sikap malas menghinggapiku yang telah letih untuk menjalani kegiatan kuliah dan kegiatan lain di luar kampus. Tapi, aku selalu mencoba menepisnya.

Aku tak ingin perjuangan orang tuaku di desa dengan bekerja keras sia-sia hanya karena sikap malasku di tanah rantau kuliah. Aku ingin kuliah dengan benar dan sungguh-sungguh supaya bisa membuat orang tua bangga.

Aku lantas beranjak dari tempat tidur dan bergegas menuju kamar mandi dan bangun untuk menunaikan ibadah sholat subuh dan membaca Alquran sebentar.

Aku sambar handuk di atas kasur, dan dengan menarik napas dalam-dalam aku berkata. “Aku harus semangat..! Kamu tidak boleh malas, Nay,” kataku sendiri mencoba untuk menyemangati.

Aku buka buku yang terlihat besar dan lebih lebar dari bukuku yang lain. Aku mencoba melihat pekerjaanku kemarin. Beginilah pekerjaanku sebelum hari rabu tiba, mengerjakan tugasku akuntansi.

Karena aku mengambil prodi teknik sipil, mau tidak mau aku harus bergelut dengan angka-angka dan gambar yang aku sendiri tak tahu.

Meskipun begitu, Teknik sipil adalah mata pelajaran yang aku sukai ketika aku masih di SMK. Oleh karena itu, aku ingin melanjutkan pengetahuanku mengenai teknik sipil di jenjang perguruan tinggi ini.

Aku merasakan kesenangan tersendiri dengan kumpulan angka-angka yang menarik itu. Perhitungannya jelas.

Usai mengerjakan soal teknik sipil, aku membereskan buku-buku di rak yang berantakan. Aku pun memasukkannya ke dalam kardus agar rakku tidak penuh dengan buku.

Tiba-tiba aku menemukan kotak berwarna coklat. Aku ingat, ini adalah kotak kue yang dulu pernah aku berikan untuk ibuku. Tepat di hari ibu dan hari ulang tahun ibuku.

Aku langsung menuju kalender yang menempel di dinding kamarku. Mataku terus berjalan mencari bulan, kemudian mencari hari.

Tampak angka 12. Kurang sepuluh hari adalah hari ibu dan tepat ulang tahun ibuku.

Aku kemudian duduk di atas kasur. Aku terus mengamati kotak kue dari kardus itu.

“Ingin sekali aku melihat senyum dan kebahagiaan itu kembali dari raut wajahnya,” kataku yang mulai sedih terbawa suasana.

Aku sudah lama tidak pulang ke rumah. Tugasku memberi les dan kegiatan di organisasi cukup membuatku kewalahan, antara tanggung jawab dan kerinduan teramat dalam pada kampung halaman.

“Aku ingin pulang, Ibu, Bapak,” teriakku tertahan.

Aku peluk kotak itu erat-erat. Kotak cinta untuk ibu yang mungkin akan aku buat lagi di tahun ini. Kotak Cinta yang selalu aku buat khusus untuk ibuku. Di hari ibu dan di hari ulang tahunnya.

Aku mulai berpikir untuk memberikan sesuatu yang berkesan di hati ibuku. Momen yang aku nanti-nantikan. Aku ingin memberikan kotak cinta itu untuk ibu.

“Kira-kira, aku ingin mengisi kotak itu dengan apa, ya?” pikirku.

“Nay, melamunkan apa, sih?” Tanya Rini.

“Ah.., tidak, Ran. Aku tidak melamun, kok,” jawabku.

Dibilang kaget, aku jawabnya juga santai. Masih berpikir juga untuk menjawab pertanyaan Rini.

“Sabtu depan pulang, kan?,” tanya Rani.

“Insya Allah, semoga di kampus tidak ada acara dan kegiatan. Aku ingin pulang, Rin. Aku kangen Ibu dan Bapak. Terutama Nila adikku. Sudah lama aku tidak pulang dan berkumpul mereka,” kataku berbagi beban di pundak ini pada sahabatku.

“Aku tahu, Nay. Kalau kamu mau, kamu pakai saja uangku dulu untuk pulang.” Rini menawarkan bantuan.

“Tidak usah, Rin. Kamu kan juga butuh uang untuk pulang,” aku berusaha menolaknya.

“Tidak apa-apa, Nay. Aku sabtu depan ada acara di kampus. Jadi, aku tidak pulang,” Rini menjelaskan.

Aku pun terdiam sejenak untuk memikirkan tawaran Rani, antara senang dan perasaan tidak enak pada Rini. Senang karena aku bisa pulang dan bertemu dengan Ibu, Bapak, dan Nila. Tapi, Rani sudah terlalu banyak menolongku.

“Bagaimana, Nay?” Tanya Rini kembali, meminta kepastianku.

“Iya, Ran,” aku pun menerima bantuan itu, karena aku ingin sekali bertemu dengan Ibu.

Namun nyatanya, aku tidak bisa pulang Sabtu depan. Ada kegiatan organisasi yang harus aku selesaikan.

Penggalangan dana untuk saudara-saudara yang sedang tertimpa masalah di Gaza, akan diadakan sabtu depan. Dengan perasaan sedih, aku harus mengikhlaskan.

“Ibu, selimut ini tidak akan datang di hari ulang tahun Ibu.”

Aku memandangi kotak yang berisikan selimut berwarna biru. Aku ingin ia menemani malam-malamnya. Aku ingin kehangatan melindungi tubuhnya. Aku ingin selalu ada di dalam mimpi-mimpinya.

Aku merasakan timangan kasur nan empuk di kamarku. Perlahan-lahan, diriku dibawa terbang ke awan. Menyusuri pulau nan indah bersama ibuku.

Kami sekeluarga terlihat gembira dan begitu menikmati. Aku melihat senyum yang begitu natural, senyum yang terpancar dari hati. Sesuatu yang Ibu ekspresikan dengan tulus.

“Buatlah Ibu bangga, Nay. Jangan biarkan orang lain merendahkan dan meremehkan kita. Aku yakin kamu pasti bisa membuat Ibu tertawa dan bahagia lebih dari hari ini,” kata Ibu memegang telapak tanganku. Tangannya begitu hangat.

Aku akan membahagiakanmu selamanya, Bu. Ingin sekali senyum itu nyata dari hatimu, tanpa ada yang engkau sembunyikan.

Perlahan-lahan genggaman ibu merosot dari genggamanku. Aku merasa kebingungan, dan mencoba menahannya.

Tapi, ujung jariku sudah menyentuh kukunya dan tiba-tiba tangan ini sudah tak menggenggam tangannya lagi.

“Ibu,” teriakku terkejut.

Aku mencoba mengatur nafas dan mencoba memasuki duniaku yang sebenarnya.

Lelah dan kerinduan telah mengantarkanku pada mimpi bertemu dengan Ibu. Kotak itu secara tiba-tiba melintas di dalam pikiranku dan hinggap di sana.

Aku menarik selembar kertas dari bukuku. Tanganku dengan lincah menari-nari di atas kertas itu, merangkai kata-kata.

“Aku berjanji, Bu, meski mengucapkannya dalam mimpi, aku yakin, itu adalah apa yang selama ini Ibu harapkan. Apa yang selama ini ibu tunggu-tunggu.

Aku akan membuat Ibu bahagia. Lebih dari hari ini dan hari selanjutnya. Selimut ini akan menghangatkan malam-malam Ibu.

Jika Nayla pulang nanti, bawalah ia untuk menemani tidurmu, Bu. Hanya ini yang bisa Nayla berikan. Tak sebanding dengan kehangatan cinta Ibu yang selalu menghangatkanku.”

Aku menitikkan air mata, dan jatuh dalam kotak itu.

“Tunggulah sampai anakmu pulang, Bu. Nayla di sini baik-baik saja. Semoga ibu dapat tersenyum untuk selamanya. Nayla berjanji, Bu.”

Aku menghapus air mataku. Aku harus semangat, semangat!

Aku menutup kotak itu dan kubawa ke dalam kamar. Aku memasukkannya dalam lemari.

“Tinggallah di sini sementara, kotakku. Sebentar lagi engkau akan bertemu dengan ibu. Aku tahu, engkau pasti tidak sabar bertemu dengan Ibu.”

Aku kemudian mengambil hp yang ada di tasku, hp lama pemberian dari keponakan Ibu. Tak apalah, dengan hp ini aku mendengarkan lagu Mother How Are You Today.

“Tunggu aku pulang, Bu. Aku sangat mencintaimu,” kataku dengan tersenyum di balik kerinduan yang teramat dalam.

Sumber: detik.com

20. Nasihat Ayah

Aku adalah siswi kelas XI di SMPN 121 JAKARTA UTARA. Aku mempunyai cita-cita yang tinggi.

Aku bercita-cita ingin menjadi seorang guru bahasa Indonesia, karena aku sangat menyukai pelajaran di bidang sastra dan bahasa.

Setelah lulus SMP nanti, aku sangat ingin melanjutkan ke SMAN 75, tetapi orang tuaku tidak mendukung niat ku ini.

Saat di rumah, aku dan keluargaku sedang berkumpul di ruang tamu, ayahku mengawali percakapan dengan menanyakan nilai rapor bayanganku yang sudah dibagikan.

“Nak bagaimana dengan nilai rapormu? Apakah kamu puas dengan nilai rapormu?,” tanya Ayah kepadaku.

“Alhamdulillah, Yah! Nilai raporku lumayan bagus, hanya 2 mata pelajaran yang di bawah KKM” kataku.

“Dan aku sudah cukup puas dengan nilai raporku. Bagaimana dengan Ayah? Apa Ayah puas dengan nilai raporku?,” kataku lagi.

“Iya Nak, Ayah juga sudah puas dengan hasil belajarmu. Pesan Ayah, kamu rajin belajar lagi, supaya nanti bisa masuk SMA Negeri,” kata Ayah dengan nada menasihati.

“Iya Yah, aku juga inginnya seperti itu. Aku ingin masuk ke SMAN 75 kalau lulus SMP nanti.” kataku sambil menjelaskan.

Saat aku berbicara seperti itu, sepertinya ada rasa kecewa di raut wajah Ayah. Aku jadi
merasa bersalah. Suasana pun hening sejenak. Ibu lalu datang membawakan minum untuk Ayah.

“Ini Yah, diminum dulu tehnya,” kata Ibu sambil menyodorkan secangkir teh kepada Ayah.

“Terima kasih ya Bu,” kata Ayah sambil mengambil teh yang Ibu berikan.

Setelah itu, Ibu duduk di samping Ayah, dan ikut menginterogasiku.

“Memangnya kamu setelah lulus SMP ingin melanjutkan ke SMA mana Nak?,” kata ibu.

“Kalau aku sih ingin masuk ke SMAN 75 Bu,” kataku.

“Menurut Ayah, kamu lebih baik melanjutkan sekolah ke SMAN 110 saja Nak,” kata ayah.

“Loh! Memangnya kenapa Yah.” kataku dengan nada yang tinggi.

“Begini loh Nak! Menurut Ayah SMAN 110 itu sekolahnya cocok untuk kamu Nak. Karena kan sekolahnya juga tidak terlalu jauh dari rumah kita.

Bukannya Ayah melarang kamu untuk memilih sekolah sendiri, tetapi Ayah hanya memberi saran untuk kamu, Nak,” nasihat Ayah panjang lebar.

“Iya loh Nak! Menurut Ibu, saran Ayahmu itu juga bagus. Karena kan kalau sekolahnya dekat itu, tidak memerlukan ongkos.

Selain bisa menghemat ongkosnya, bisa membuat kamu bebas dari macet dan tidak terlambat saat ke sekolah,” kata Ibu.

Aku hanya bisa diam saat Ayah dan Ibuku berkata seperti itu. Aku sedikit kecewa dengan mereka. Tetapi aku tidak mau mengecewakan mereka.

Aku berpikir sejenak, dan setelah aku pertimbangkan, omongan Ayah dan Ibuku ada benarnya juga, aku juga tidak perlu menghabiskan waktu aku untuk berangkat dan pulang sekolah.

“Baiklah Yah, Bu, aku akan mengikuti nasihat Ayah dan Ibu. Aku akan melanjutkan sekolahku ke SMAN 110 saja.” kataku sambil tersenyum kepada ayah dan ibuku.

“Wah!! Bagus kalau kamu mau mengikuti nasihat Ayah dan Ibu” seru Ayah.

“iya. Ibu juga ikut senang kalau begitu,” kata Ibu.

“Iya Bu, setelah aku berpikir, omongan Ayah sama Ibu ada benarnya juga.” kataku.

“Iya Nak, Ayah harap kamu bisa tambah giat belajarnya. Supaya nanti bisa dapat nilai tinggi saat UN ya.” kata Ayah sambil mengelus kepalaku.

“Iya Yah. Terima kasih atas nasihat Ayah. Insya Allah aku akan giat lagi belajarnya Yah,” kataku.

Ternyata setiap nasihat itu mempunyai makna tersendiri. Dari nasihat Ayah, aku bisa belajar menjadi anak yang tidak egois dan mau mendengarkan nasihat yang Ayah berikan.

Karena setiap nasihat dari orang tua itu selalu benar dan bermanfaat bagi anaknya.

Setiap orang tua tidak akan pernah mau menyesatkan anaknya sendiri. Justru orang tua itu akan terus menuntun anaknya ke jalan yang benar.

Sumber: detik.com

Lihat Juga : 50 Contoh Soal Sinonim dan Antonim

Penutup

Cerpen yang berisi kisah atau rangkaian peristiwa seperti kumpulan contoh di atas dapat mengingatkan bahwa semangat belajar, ketekunan dan perjuangan di dunia pendidikan, terlebih untuk menggapai cita-cita tentu sangat penting. Melalui cerpen pendidikan, diharapkan untuk memahami betapa berharganya pendidikan dalam mengubah kehidupan seseorang, serta dapat memberikan inspirasi kepada generasi muda untuk terus mengejar ilmu dan meraih masa depan yang gemilang.

Mengapa cerpen pendidikan memiliki peran penting dalam pembentukan karakter dan pemahaman nilai pendidikan?

Cerpen pendidikan mempunyai peran penting dalam pembentukan karakter dan pemahaman nilai pendidikan karena melalui kisah-kisah tersebut, pembaca dapat mengalami perjalanan emosional dan intelektual yang mempengaruhi pola pikir dan sikapnya terhadap dunia pendidikan. cerpen pendidikan dapat menyampaikan pesan moral, membangun rasa empati dan memberikan inspirasi kepada pembaca untuk menghargai tentang betapa pentingnya pendidikan dalam kehidupan.

Bagaimana peran tokoh dalam cerpen dapat mempengaruhi perkembangan karakter dan memberikan motivasi?

Peran tokoh dalam cerpen pendidikan sangat penting dalam mempengaruhi perkembangan karakter dan motivasi pembaca. Ketika pembaca terpapar dengan tokoh-tokoh yang memiliki semangat belajar yang tinggi, ketabahan dalam menghadapi rintangan atau dedikasi dalam mencapai tujuan pendidikan. Hal itu menyebabkan pembaca akan cenderung terinspirasi dan terdorong untuk meniru sikap dan perilaku dari tokoh tersebut.

Mengapa penggunaan tema dan konflik dalam cerpen pendidikan menjadi penting dalam menyampaikan pesan-pesan pendidikan kepada pembaca?

Penggunaan tema dan konflik dalam cerpen pendidikan menjadi penting karena hal itu membantu untuk menyampaikan pesan-pesan pendidikan secara lebih menarik dan mudah dipahami oleh pembaca. Dengan menggunakan tema yang relevan seperti semangat belajar, persahabatan atau mengatasi rintangan, cerpen pendidikan dapat menggambarkan situasi kehidupan yang nyata.


Penulis : Elly Abriyanti Widyaningrum | Editor : Rudi Dian Arifin, Wahyu Setia Bintara

Elly Abriyanti Widyaningrum

Elly Abriyanti Widyaningrum adalah penulis artikel di dianisa.com yang berfokus pada topik umum, seperti lifestyle, pendidikan, dan lainnya. Selain menjadi penulis lepas, ia juga seorang tutor privat, content planner dan executive administrasi di Distributor Utama SR12 Skincare.

Discussion | 0 Comments

*Komentar Anda akan muncul setelah disetujui

  1. 25 Nada Dering iPhone 12 dan 12 Pro, Paling Lengkap!

    Berikut kami bagikan kumpulan nada dering iPhone 12, dan 12 Pro, yang bisa kamu download dan…
  2. 62 Nada Dering Nokia Jadul Semua Tipe, Terlengkap 2024

    Berikut kami bagikan kumpulan nada dering Nokia jadul versi lama MP3 yang bisa kamu download dan…
  3. 20 Nada Dering Sholawat, Allah Karim, dari TikTok, Terbaru!

    Berikut kami bagikan kumpulan nada dering Sholawat, Allah karim, Al – Hijrotu, dari TikTok yang lagi…