Elon Musk memperkirakan bahwa kecerdasan buatan (AI) akan mengubah masa depan pekerjaan, membuat pekerjaan manusia menjadi pilihan, bukan kewajiban.

Elon Musk. tradersunion.com
Elon Musk kembali memicu diskusi global mengenai masa depan kecerdasan buatan (AI) dan dampaknya terhadap kehidupan manusia. Dalam wawancara mendalam bersama Nikhil Kamath, pendiri SpaceX dan Tesla tersebut menyampaikan prediksi bahwa manusia sedang menuju masa di mana pekerjaan bukan lagi kebutuhan ekonomi, melainkan sekadar pilihan pribadi.
Musk menyampaikan keyakinan bahwa dunia akan segera menyaksikan bentuk kecerdasan buatan yang jauh melampaui kemampuan manusia paling cerdas.
“Saya pikir kita akan memiliki sesuatu yang, untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, jauh lebih pintar daripada manusia terpintar,” ungkap Musk dalam podcast tersebut [09:12].
Menurutnya, perkembangan ini tidak hanya bersifat evolusioner, tetapi sebuah lompatan besar yang akan mengubah struktur sosial, ekonomi, dan budaya dalam skala global.
Salah satu poin paling kontroversial dalam wawancara tersebut adalah prediksi Musk mengenai status pekerjaan di masa depan. Ia menyebut bahwa AI akan mampu mengambil alih hampir semua bentuk pekerjaan manusia.
“Tidak ada pekerjaan yang dibutuhkan,” tegas Musk [09:44].
Meski begitu, ia menekankan bahwa pekerjaan mungkin masih ada — tetapi bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, melainkan sebagai bentuk ekspresi diri dan kebanggaan pribadi.
“Anda bisa memiliki pekerjaan, untuk kepuasan pribadi. Tetapi AI akan mampu melakukan segalanya,” lanjutnya [09:44].
Jika pekerjaan tidak lagi menjadi pondasi hidup, Musk menilai umat manusia akan menghadapi tantangan yang jauh lebih filosofis: tujuan hidup.
“Pertanyaan terbesar adalah, apakah orang memiliki makna eksistensial jika mereka tidak memiliki pekerjaan?” ujarnya [09:58].
Dalam pandangannya, dunia harus bersiap menghadapi pertanyaan-pertanyaan mendalam tentang identitas, kontribusi, dan arah hidup manusia.
“Kita semua harus menghadapi pertanyaan mendasar tentang makna ini. Apa yang akan kita lakukan?” tambahnya [10:31].
Terlepas dari tantangan eksistensial tersebut, Musk tetap memandang masa depan AI sebagai peluang besar. Ia membayangkan era di mana kebutuhan materi manusia dapat dipenuhi tanpa kesenjangan, karena AI mampu mengelola dan memproduksi sumber daya secara efisien.
Konsep ini mendekati gagasan universal high income — versi futuristik dari universal basic income (UBI) — meskipun Musk tidak menjelaskan detail mekanisme distribusinya.
Pernyataan Elon Musk memunculkan perdebatan besar: apakah masa depan tanpa pekerjaan adalah ancaman atau peluang? Sementara sebagian orang antusias melihat era otomatisasi total, sebagian lainnya mempertanyakan nasib identitas, moral, dan psikologi manusia tanpa aktivitas produktif.
Satu hal yang jelas: era AI tidak hanya akan mengubah cara manusia bekerja — tetapi juga cara manusia memaknai hidup.